Arthworks

THE CAR INTERNATIONAL CARTOON CONTEST 2009

Posted by: arthworks on: February 20, 2009

Ikutan kontes kartun yang ini juga...
The Car International Cartoon (By Email) Contest 2009
Subjects :
A. Car
B. Designation of the Future Car

Yang ikutan dari Indonesia banyak juga. Terutama para ‘jawara’ kartun Indonesia ikut kontes ini juga. Bagus-bagus karyanya.




17th EURO-KARTOENALE KRUISHOUTEM 2009

Posted by: arthworks on: February 17, 2009

Ikutan kontes kartun ini..17th EURO-KARTOENALE KRUISHOUTEM 2009

Bela-belain dan terburu-buru..hasilnya memang tidak maksimal.
Cerita dibalik ikut kompetisi ini…
Tahu kompetisi ini dari Irancartoon dan sempat berniat tak ikutan tapi…karena dulu pernah ikutan kartun ini..eh..ternyata dikirimin lagi formulirnya..jadilah ikutan.
Pengiriman lewat pos. Ini juga jadi pengalaman tersendiri. Entah kenapa waktu mengirim kartun ini (lewat kantor pos pusat Bandung) antrinya luar biasa! Padahal pakai kilat khusus!
Dan ternyata..seminggu kemudian di webnya ada info akhirnya diperbolehkan mengirim via e-mail..halah! Ampun deh..knapa tidak dari awal…

Begitulah…

POLUSI HAPE!

Posted by: arthworks on: December 19, 2008

Dulu..hand phone/mobile phone/hp/hape adalah barang mewah, ingat waktu jaman mobile phone masih sebesar batu bata. Rasanya cool banget bawa-bawa mobile phone walaupun pasti susah disimpannya. Sekarang dengan ukuran seperti sekarang ini hape bukan barang mewah lagi, mudah dibawa kemana-mana, operatornya banyak dan harganya murah. Sekarang ini siapa saja bisa punya hape, sampai-sampai ada iklan “hari gini nggak punya hand phone???”. Adalah memalukan kalau sampai nggak punya hand phone. Ojeg saja sekarang ini bisa dipesan via hape bahkan di Medan kabarnya ‘betor’ (becak motor) pun dipesan lewat hape. Pengemudi ojeg & betor ini masing-masing punya hape untuk berhubungan dengan pelanggannya.
Sekarang ini rata-rata tiap orang minimal punya 1 hape bahkan ada yang punya 2-3 buah. Bayangkan ada berapa penduduk Indonesia ini, lebih luas lagi bayangkan ada berapa penduduk dunia ini, masing-masing punya 1-2 buah hape. Berapakah jumlah hape beredar di dunia ini? Belum lagi tingkat perputarannya lumayan cepat. Selalu saja ada hape keluaran terbaru.
Kemanakah semua hape ini akan berakhir apabila sudah tak terpakai? Didaur ulang atau dibuang begitu saja?
Polusi lagi deh…

POLUSI VISUAL!

Posted by: arthworks on: December 17, 2008

Menjelang Pemilu 2009 ini coba lihat sekitar kita, ada spanduk, baliho, poster, selebaran, dan banyak lagi. Isinya ada mulai dari ajakan, mohon doa restu, sampai peringatan jangan salah pilih. Masalahnya semua spanduk, baliho, poster dan lain sebagainya itu dipajang bukan pada tempat yang tepat. Asal pasang. Yang penting kelihatan, tidak peduli bikin sumpek mata! Polusi visual! Bertebaran di sepanjang jalan saingan dengan iklan (iseng-iseng coba perhatikan gaya calon wakil rakyat kita itu di poster ataupun selebaran..semuanya sama! sengihnampakgigi).
Sampai-sampai pohonpun dikorbankan, tak jarang poster-poster itu dipaku ke batang pohon. Belum lagi bendera-bendera parpol pendukung calon wakil rakyat kita ini nangkring dengan megahnya di puncak-puncak pohon itu.

Bagaimana ini..belum jadi wakil rakyat saja anda-anda ini sudah bikin susah..

Silahkan ber-kampanye tapi perhatikan tempatnya donk! Jangan cuma mau ‘suara’ kami tapi hargai juga ‘mata’ kami..

Kartun Naik Daun

Posted by: arthworks on: December 3, 2008


Semenjak heboh ‘kartun nabi’ yang bermuatan pelecehan agama itu, kartun jadi naik daun. Iseng-iseng searching ‘kartun’ pakai Mr. Google maka yang ditampilkan semuanya bermuatan ‘kartun nabi’ itu. Luar biasa!

Itulah makanya kartun bisa jadi dikatakan pedang bermata dua. Jika digunakan oleh pendekar kartun berwatak baik maka jadilah kartun yang bisa menghibur dan membuat dunia tersenyum. Tapi kalau jatuh ke tangan pendekar kartun berwatak jahat maka jadilah kartun itu menaikkan temperatur emosi dan mengundang hujatan plus makian. Ujung-ujungnya..bisa konflik SARA.

Jadi..wahai saudara sekartunis, berhati-hatilah menggunakan kartunmu.
Pergunakan sebaik-baiknya ELEMEN KEDUA-MU (Lebih jelasnya silahkan baca posting sebelumnya sengihnampakgigi)

Salam kartun

Membedah Anatomi Kerja Kartunis

Posted by: arthworks on: December 1, 2008

Ooo..ternyata begitu ya anatomi kerja kartunis.. Kartunis itu memang manusia unik.
Silahkan dibaca dan direnungkan.



Diambil dari internet dan diolah kembali menggunakan Photoshop



MEMBEDAH ANATOMI KERJA KARTUNIS

Oleh Darminto M Sudarmo

SEMINGGU sebelum acara diskusi kartunis (Lektur Terbuka: Kartunis dan Tugasnya oleh GM Sudarta dan Lat) di Taman Ismail Marzuki, 12 Juli 2003, saya didaulat kartunis Pramono (Ketua Umum Pakarti-Persatuan Kartunis Indonesia) agar bersedia memandu acara diskusi tersebut, disponsori oleh Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta. Bagaimana mungkin saya dapat menolak “perintah” beliau, salah satu tokoh kartunis senior negeri ini, apalagi bila itu ada kaitannya dengan sebuah momentum yang menarik; yakni bertemunya dua figur maestro kartunis Indonesia dan Malaysia, GM Sudarta dan Lat, yang seingat saya baru pertama kali dipertemukan dalam sebuah forum di Indonesia.

Gairah budaya pun semakin tumbuh, apalagi bila mengingat Indonesia sedang dilanda berbagai arus kepentingan yang membuat pening kepala, geli hati sekaligus jengkel karena UU Pilpres, Susduk, Hak DPR untuk menyandera, dan lain-lain yang begitu naif, ternyata bisa terjadi dan memang benar-benar terjadi.

Saya pun bersiap-siap mengumpulkan joke-joke “maut” agar dalam pelaksanaan diskusi dapat diarahkan ke suasana yang lebih “pedas” tapi segar dan eliminatif. Harapan saya, kendati hanya berlangsung selama dua jam saja, pertemuan dua jagoan itu bisa menjadi katarsis bagi semua yang hadir. Sejenak melupakan proses sejarah yang gerah, yang terjadi di negeri ini. Tambahan lagi, diskusi yang bertajuk : Kartunis dan Tugasnya bukankah tergolong tema ringan dan pasti akan penuh dengan canda dan derai tawa. Bayangan lucu yang terproyeksi dalam kepala saya, pasti para kartunis akan menjawab sambil berseloroh, “Tugas kartunis apa lagi? Tentu saja mencari nafkah buat keluarganya”. Hadirin yang kaget akan merespons jawaban itu dengan gelak tawa dan tepuk tangan; betapa mewahnya bila suasana seperti itu bisa terjadi.

Logika seperti ini pula yang pernah dipakai Arswendo Atmowiloto, ketika menangkis pertanyaan secara ndugal, mengapa gerakan separatisme di Indonesia marak, bukan saja di Aceh, Maluku tapi juga di Papua? Jawaban Arswendo, PDI-P-lah yang harus bertanggung jawab, jelas-jelas Indonesia sudah lama merdeka, mengapa partai itu selalu meneriakkan yel-yel, “Merdekaaaa… Merdekaaaa!!!”

Arswendo memang Arswendo. Untuk mengamankan pernyataannya yang rada ndugal itu, dia berlindung di balik predikatnya sebagai seorang guyonis. Guyonis? Istilah gendeng apa pula ini? Tapi, secara gramatika, tidak salah. Guyon itu kata benda dan akhiran is, tak mau kalah dengan humoris, kartunis, lengkap kan edan-edanannya?

Maka, seperti yang sudah dijadwalkan, diskusi tentang kartun dan kartunis itu pun terjadilah…!

GM Sudarta, seperti yang sudah diduga, tampil piawai sebagai story teller yang memikat, runtut, terutama ketika menyampaikan “makalah”-nya berupa tumpukan gambar karikatur mahasiswa-mahasiswa Bandung pada tahun-tahun sekitar 1965-an, sesekali muncul leluconnya yang inspiratif, dan tetap dikemas dalam bingkai elegan. Lat yang tampaknya pendiam dan angker, setelah berbual-bual (berbicara) secara lugas, apa adanya, barulah muncul sepenggal demi sepenggal leluconnya. Hampir semua yang dia sampaikan berdasar pengalaman nyata. Namun, disusun secara bersilang tumpang sehingga setiap terjadi persinggungan logika, selalu muncul sesuatu yang mengagetkan dan menimbulkan tawa.

Persoalannya kemudian, diskusi tumbuh tidak sekadar mengobral tawa dan katarsis. Joke-joke maut yang sudah saya siapkan pun akhirnya tak relevan dimunculkan karena suasana telah berkembang sebagaimana yang dikehendaki takdir. Inti dari “makalah” GM Sudarta yang menggambarkan keberanian para kartunis (mahasiswa) saat itu yang demikian telak dan langsung membidik sasaran atau obyek, yakni Bung Karno, sebagai simbol rezim Orde Lama dan mendukung secara euforia kelahiran Orde Baru, pada akhirnya membuat para kartunis itu harus terkecoh, karena rezim yang baru pun, secara pelan tapi pasti mulai memasung kebebasan yang semula dijanjikan semanis madu itu. Pesta demokrasi pun usai sejak awal tahun 1980-an hingga Rezim Soeharto tumbang, tahun 1998.

Fakta itu mengingatkan saya pada buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.
Salah satu pernyataan Soe Hok Gie, yang juga hasil mengutip dari intelektual asing, (maaf, saya tak ingat namanya), seorang cendekiawan dilahirkan untuk memusuhi rezim yang korup; setelah rezim yang korup tumbang, maka akan muncul rezim baru. Rezim baru tak lama kemudian juga korup, sang cendekiawan pun memusuhi rezim yang baru. Demikian seterusnya. Maka takdir seorang cendekiawan akan selalu sendirian dan selalu sendirian dalam rezim yang bagaimana pun.

Sementara itu Lat banyak bercerita tentang dirinya yang tak berkantor di mana-mana, tetapi bekerja di rumah sebagai kartunis untuk harian New Straits Times, Malaysia. Seminggu tiga kali. Sebulan rata-rata 12 karikatur. Gambar-gambar itu juga dikirim via e-mail, sehingga Lat tak perlu hadir di kantor koran tersebut. Setelah berpuluh-puluh tahun malang-melintang di Kuala Lumpur, Lat merasa perlu balik ke kampung, Ipoh, untuk berbagai alasan. Di antaranya adalah memberi ruang bagi kemunculan kartunis-kartunis muda dan yang jelas suasana di kampung lebih nyaman : udara jauh lebih sehat dan sosialisasi dengan warga lebih hangat ; mungkin spirit kemanusiaan dan ketulusan lebih terasa daripada di kota.

Sesuatu yang menggembirakan, di luar dari proyeksi nakal saya, diskusi dua jam itu tak sengaja dapat menghadirkan simpul-simpul penting mengenai sosok manusia yang bernama kartunis. Khususnya yang berkaitan dengan sistematika berpikir, proses kreatif dalam berkarya, metodologi kerja dan motivasi pilihan profesi. Dari simpul-simpul tersebut bila disederhanakan, dalam diri seorang kartunis (tak peduli apakah ia seorang gag cartoonist, social cartoonist maupun political cartoonist) terdapat tiga elemen kompetensi yang satu dengan lainnya saling terkait.

Elemen pertama, kompetensi di bidang teknis/artistik
Seorangkartunis dengan sendirinya memiliki kemampuan teknis menggambar yang memadai. Dengan kata lain bila ia menggambar seekor kuda, maka siapapun yang melihat gambar itu akan mengatakan itu gambar kuda. Bukan kerbau, sapi atau jerapah. Bila seorang kartunis bermaksud menggambar kuda, tetapi yang tampak oleh orang banyak bukan gambar kuda, maka si kartunis dianggap gagal berkomunikasi. Itu sama dengan dia belum memiliki kompetensi di bidang teknis/artistik. Dan komunikasi kepada publik akan semakin kacau bila ternyata dari gambar yang menyimpang itu ketambahan lagi dengan kata-kata, bayangkan, betapa carut-marutnya kemungkinan komunikasi yang bisa terjadi kemudian.

Elemen kedua, kompetensi di bidang pengamatan
(jurnalis, kolumnis,
penulis, cerdik cendekia, ilmuwan dan sebagainya)
Seorang kartunis
dengan sendirinya adalah seorang yang memiliki kemampuan dalam mengamati berbagai masalah secara cermat dan akurat. Khususnya menyangkut detail dan substansi. Setelah diendapkan beberapa saat, kemudian ia membuat analisis-analisis. Membuat pertanyaan dan asumsi. Bahan berupa analisis ini untuk sementara dibiarkan menggantung menunggu proses yang ketiga.

Elemen ketiga, kompetensi di bidang lelucon (humoris/kreatif)
Seorang kartunis dengan sendirinya adalah seseorang yang memiliki sense of humor yang baik dan mampu menghasilkan lelucon yang baik pula; ia mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang beda daripada masyarakat umum. Beda dalam konteks ini tidak sekadar lain, namun beda yang memiliki sejumlah alasan yang dapat dibenarkan.
Seperti karikatur karya GM Sudarta (Lihat Kompas, 12 Juli 2003), seorang narapidana berpakaian loreng duduk di singgasana nomor satu negeri ini dengan senyum lugu dan wajah tak berdosa. Proyeksi karikatur yang nyeleneh dan mengagetkan itu, tidak sekadar beda tapi berlandaskan alasan-alasan yang reasonable. Bila kurang jelas, buka UU Pilpres.

DI sisi lain, banyak rekan wartawan yang dengan penasaran mempertanyakan tentang sosok yang bernama kartunis itu. Bila dilihat sekilas performance mereka tenang, kadang justru cenderung pendiam, bahkan ada yang sangat pemalu, tidak suka sosialisasi dengan orang-orang yang belum dikenalnya secara mendalam. Tetapi, ketika tiba giliran mereka menggambar kartun, di situlah muncul ide-idenya yang edan dan ugal-ugalan. Ada virus apa sebenarnya di otak kartunis itu?
Pertanyaan bernada seloroh ini mudah-mudahan agak terjawab oleh asumsi tiga elemen di atas.

Bila dipikir-pikir, demikian seorang teman kartunis ngudarasa, mungkin masih lebih enak menjadi pelukis. Tugasnya adalah melukis. Boleh tidak peduli pada masalah-masalah terkini yang lagi hangat atau sudah basi. Boleh melukis yang obyeknya tidak harus lucu; sebaliknya, bebas mengungkapkan hal yang membuat orang bersedih hati.
Begitu juga dengan jurnalis, kolumnis, penulis, cerdik cendekia, ilmuwan dan sebagainya. Boleh bekerja dalam jalur job-nya tanpa perlu harus pintar menggambar atau melucu. Tak terkecuali pelawak atau humoris, tidak perlu harus pintar menggambar. Bukankah itu berarti bahwa secara esensial, kerja sebagai kartunis adalah kerja yang tidak ringan. Ia harus menggabungkan sedikitnya tiga kompetensi sekaligus, sebagaimana dijelaskan di atas.

Mengingat keadaan ini, saya sering bertanya-tanya dalam hati, inikah yang menjadi penyebab mengapa jumlah kartunis negeri ini dari waktu ke waktu terus menyurut? Apalagi bila dibandingkan dengan jumlah pelukis, yang angkanya dari waktu ke waktu justru makin bertambah.
Catatan sementara yang ada pada saya, para kartunis yang tidak pernah lagi mengartun di antaranya adalah: Harmoko, Harry Pede, Oet, Tris Sakeh, SNS, Meru Sudarta, Julius Pour, T Nurjito, Gun R, Mr Zaggy, Jaya Suprana, Ramli Badrudin, Basnendar, Anwar Rosyid, Odios (saya sendiri), dan masih banyak rekan lain di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, dan Bali, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu per satu.

Sementara itu, kartunis-kartunis Indonesia yang masih setia berkarya, mungkin cukup banyak, namun relatif sedikit bila dibandingkan jumlah pelukis/perupa yang tumbuh di negeri ini. Trio jagoan Indonesia yang sudah tidak asing lagi dan belum tergoyahkan eksistensinya adalah: GM Sudarta, Dwi Koendoro dan Pramono. Ada satu kartunis kawakan, yang lebih senior dari mereka bertiga, kendati tidak spesifik memiliki media (terutama di zaman Orde Baru) namun tetap berkarya, yaitu Sibarani. Almarhum Arwah Setiawan menempatkan Sibarani sebagai salah satu sosok karikaturis paling fenomenal pada zamannya.

Dari angkatan yang lebih muda lagi, memang terdapat nama-nama seperti: Non-O, Gesi Goran, Gatote, Rahmat Riyadi, T Riyadi, tetapi nama-nama seperti Priyanto S dan T Soetanto dari Bandung yang karyanya banyak merajalela di media Jakarta, siapa bisa menafikan kehadiran mereka? Di kawasan lain, kartunis Jitet Koestana yang sering menang lomba di luar negeri, Jango yang punya komunitas penerbitan kartun (humor) di Bali, Tony Tantra yang terus berkarya dalam kemisteriusannya, M Najib, yang lugu dan lucu seperti “Inul”, Ifoed yang rajin mengembangkan kartun ke advertensi, adalah fenomena- fenomena baru yang tak dapat dianggap enteng kiprahnya. Dalam perkembangannya, kartun ternyata tidak hanya menjadi warga dari seni grafis. Ia kini telah berkembang ke seni hias kaus, interior, instalasi, animasi dan bukan tak mungkin bermutasi ke seni murni.

PADA akhirnya, baik GM Sudarta maupun Lat yang siang itu 12 Juli 2003 menjadi “ayah” bagi Oom Pasikom dan Si Mamat (Kampung Boy) harus rela buka kartu dan berendah hati bahwa hal-hal yang berkaitan dengan sistematika berpikir, proses kreatif dalam berkarya, metodologi kerja dan motivasi pilihan profesi, tetap perlu mengaitkannya dengan tatanan sosial dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Wajarlah bila dalam berkarya mereka harus mengkalkulasi itu semua supaya karya dan pesannya dapat efektif sampai ke sasaran yang dituju. Artinya, bahwa kartun yang berhasil itu indikasinya adalah dapat membuat senang si pembuat, yang membaca/menonton dan pihak yang dijadikan obyek dalam karikatur/kartun. Dengan kata lain, untuk sampai pada situasi itu, mereka perlu menempatkan strategi self censorship sedini mungkin. Setidaknya sikap itu yang diperlihatkan GM Sudarta dan Lat tanpa tedheng aling-aling. Tanpa perlu merasa kurang heroik. Toh, bila seorang kartunis berhasil menyampaikan early warning, pesan atau peringatan awal atas suatu masalah atau persoalan, sebenarnya, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan, GM Sudarta mengutip salah seorang “suhu” institusi pendidikan tinggi kartun di Jepang yang berkata, bila sebuah kartun sudah mampu berbisik kepada pembacanya, itu sesungguhnya, sudah tergolong berhasil.

Begitulah. Pertanyaannya lagi, wajarkah bila kita menuntut peran kartunis terlalu besar dan berlebihan, misalnya berharap mereka menjadi ujung tombak demokrasi, agen perubahan atau revolusi, lalu apa peran anggota DPR yang terhormat dan bergaji besar itu?


Darminto M Sudarmo, Pengamat Humor, Tinggal di Jakarta

sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/20/seni/436069.htm

Romance

Posted by: arthworks on: November 11, 2008


Hunting foto ke Lembang. Ketemu bunga ini…tapi nggak tahu namanya.
Diolah di photoshop ditambahin efek blur plus koreksi warna.
Ada yang bisa bantu namanya bunga apaan?

Kamera : Sony Cybershot DSC-F717
Lensa : Carl VS 2-2,4/9,7-48,5
Film : Digital
Kecepatan : A
Diafragma : A

SANG BAMBU

Posted by: arthworks on: November 7, 2008

www.mountainearthstudio.com

Bamboo is a favorite subject for Chinese painting and, along with orchids, plum blossoms and chrysanthemums, is one of the “Four Gentlemen.”
Bamboo symbolizes longevity and courage because it does not break even in strong wind.
It is flexible, yet sturdy and evergreen.

CoPas dari milis Tanah Karo dan sepertinya si pengirim CoPas juga dari sumber lain hanya saja tak disebutkan sumbernya.

Renungan yang menarik. Mengajak untuk tak cepat berputus asa, tak mudah menyerah.
Sang waktu pun tak mampu menghalangi kalau asa sudah membara.
Yang penting bara itu jangan sampai padam.

Silahkan disimak dan direnungkan…

Alkisah, tersebutlah seorang pria yang putus asa dan ingin meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan, dan berhenti hidup.
Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.

“Tuhan,” katanya. “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?”

Jawaban Tuhan sangat mengejutkan. “Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu?”.

“Ya,” jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik. Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air.
Pakis tumbuh cepat di bumi. Daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan.
Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apapun.
Tapi Aku tidak menyerah.

“Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.
Tapi Aku tidak menyerah.

“Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu.
Tapi Aku tidak menyerah.
Di tahun ke-4, masih juga belum ada apapun dari benih bambu.
Aku tidak menyerah,” kataNya.

“Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.
Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.
Tapi 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun. Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.
Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku,”kata Tuhan kepada pria itu.

“Tahukah kamu, anak-Ku, di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”
“Aku tidak meninggalkan bambu itu. Aku juga tak akan meninggalkanmu.”

“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.
“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah.”

“Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi.”

“Saya akan menjulang setinggi apa ?” tanya pria itu.

“Setinggi apa pohon bambu bisa menjulang?” tanya Tuhan

“Setinggi yang bisa dicapainya,” jawab pria itu.

“Ya, benar! Agungkan dan muliakan nama-Ku dengan menjadi yang terbaik, meraih yang tertinggi sesuai kemampuanmu,” kata Tuhan.

Pria itu lalu meninggalkan hutan dan mengisahkan pengalaman hidup yang berharga ini.

Menuju Ke Barat

Posted by: arthworks on: October 30, 2008

Diambil dari http://karoguide.blogspot.com

Besok pagi tanggal 31 Oktober 2008, 07.00 WIB saya menuju ke barat. Tepatnya belahan barat Indonesia. Lebih tepatnya lagi Medan, Sumatera Utara. Tanah kelahiran saya.
Tapi kali ini tujuan saya selama 3 hari ini bukan ke Medan tapi ke Desa Bintang Meriah, Tanah Karo (Kabupaten Karo). Tetap saja saya pasti menyempatkan diri singgah ke rumah orang tua saya di Medan sengihnampakgigi.

Desa Bintang Meriah, terletak di Kecamatan Kutabuluh, masuk wilayah Kabupaten Karo, SUMUT, biasa dikenal dengan Tanah Karo. Mau tahu lengkapnya silahkan klik di sini. Di negara kita ini Karo dikenal sebagai salah satu sub suku Batak. Batak Karo tepatnya. Walaupun begitu orang-orangnya lebih suka disebut Orang Karo daripada Orang Batak senyumkenyit Kenapa begitu? Panjang dan rumit ceritanya..nantilah lain waktu soalnya melibatkan sejarah.

Di desa inilah Ibunda tercinta dilahirkan. Almarhum Ayahanda tercinta juga asli orang Karo hanya saja dilahirkan di tempat yang berbeda. Desa Rumah Kinangkung, masuk daerah Sibolangit sebuah kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, SUMUT. Berbatasan dengan Kabupaten Karo. Lengkapnya klik juga di sini. Otomatis tempat kelahiran Ayahanda menjadi kampung halaman saya walaupun saya dilahirkan bukan di sana tapi di Medan. Marga yang saya sandang juga diturunkan dari Alm. Ayahanda tercinta. Dan akan diturunkan terus sampai ke anak cucu. Begitulah tradisi orang Batak pada umumnya.

Dari kota Medan menuju desa Bintang Meriah membutuhkan waktu sekitar 3 jam dengan kenderaan roda empat (Mau lihat peta wilayahnya seperti apa? Klik lagi deh di sini. Ingat patokannya Medan-Kutabuluh) Lalu ngapain sih jauh-jauh ke sana? Keluarga besar mengadakan acara Ngampeken Tulan-tulan, mmm…sederhananya artinya upacara adat pemindahan tulang belulang kakek-nenek saya. Penjelasannya bisa juga dilihat disini. Karena ini upacara besar seluruh keluarga besar dimanapun berada kalau memungkinkan diminta untuk hadir. Itulah alasannya saya jauh-jauh kesana.

Yang pasti bakalan banyak objek foto menarik di sana. Mudah-mudahan nanti saya bisa bawa oleh-oleh foto yang bisa di-share disini. Kalau oleh-oleh kulinernya gimana nge-share-nya disini ya? sengihnampakgigi

Dilarang S & P

Posted by: arthworks on: October 14, 2008

Diambil dari Wikipedia dan sedikit olahan Photoshop

Di jalanan, dua huruf ini pasti nggak asing buat para driver dan biker. Biasanya dua huruf ini disertai dengan tanda silang dan hati-hati kalau melanggarnya, pasti kena semprit.

Buat orang kantoran, dua huruf ini juga menggetarkan. Nggak pake tanda silang tapi justru digabung S dan P, jadinya SP. Surat Peringatan. Awas, jangan sampai 3x. Bisa-bisa dapat SP berikutnya…Surat Pemecatan.

Itulah Rambu-rambu atau Sign System, traffic sign kalau di jalanan. Setiap rambu pasti ada hukumnya kalau dilanggar dan seharusnya setiap rambu itu bukan untuk dilanggar sengihnampakgigi tapi untuk dipatuhi.

Di dunia ini juga ada banyak ‘rambu-rambu’ yang harusnya dipatuhi. Tapi seringkali justru dilanggar sembari celingak-celinguk lihat kiri-kanan, ada yang lihat nggak ya…ada petugas nggak ya… Padahal kalau kita semua sadar diri patuh pada rambu-rambu yang ada, yakinlah dunia ini akan aman dan tenteram. Nggak perlu ada SP, ‘surat peringatan’ bencana alam, banjir dan gempa bumi.

Apa nggak takut dapat SP berikutnya, ‘surat pemecatan’…

DESIGN

"...design is the paradise of individuality, eccentricity, heresy, abnormality, hobbies and humors." - George Santayana
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.